• Home
  • Opini
  • Strategi Tandingan Menggiring Kepentingan?

Strategi Tandingan Menggiring Kepentingan?

Rabu, 23 Agustus 2017 12:41:00
BAGIKAN:
Defri Caniago
HAHAI, tampaknya strategi tandingan tengah mengapung di Negeri ini. Semisal, tak mau sang penguasa dikritik, trik tandingan untuk melakukan pembelaan dijalankan.

Pengerahan masa dari ormas yang digenggam jadi pilihan. Membela habis-habisan merupakan harga mati. Apapun hasilnya, usaha telah dilakukan demi menjaga yang namanya "hati" penguasa.

Apapun judul tidak penting, ketika ada yang mengusik dan mengkritik dalam bentuk aksi apapun, seketika itu juga hukumnya harus dibungkam dengan tandingan, kesampingkan yang namanya aturan.

Gertak harus disampaikan agar tetap diam. Pekikan dari pengkritik harus berubah menjadi bisu, dengan tujuan kritik terhadap penguasa bisa digagalkan.

Lucu juga Negeri ini. Penguasa tetap penguasa. Sepertinya aturan tidak terlalu penting, karena lobi-lobi mungkin bisa dilakukan.

Memanfaatkan peluang cukup berpengalaman. Yang dibela tandingan adalah penguasa, sepertinya aparat keamanan sedikit sungkan juga berbuat banyak.

Secara keseluruhan, hanya sebatas menunggu kesempatan, selagi aman dan terkendali, biarkan. Saat memanas pagar betis dikerahkan.

Asalkan tetap kondusif, berjalan lancar dan aksi kritik tak anarkis, cukup dikawal sambil siaga penuh menunggu arahan dari komandan.

Berbicara salah, tidak mengerti juga siapa yang salah. Benarpun, juga entah siapa. Intinya, masing-masing tetap melancarkan programnya. Yang mengkritik dijalur yang benar tetap berjalan.

Menandingi kritik di jalur yang belum diketahui, juga tetap berjalan. Ketegasan masih di awang-awang.

Padahal, ketimpangan terlihat jelas. Sudahlah. Toh petinggi keamanan di Negeri Junjungan ini juga telah berbuat sekuat tenaga menjaga Negeri ini.

Pada intinya, munculnya aksi kritik terhadap penguasa dari masyarakat, karena adanya kekhawatiran yang cukup besar.

Kekhawatiran itu terletak pada momen pemanfaatan indikasi kepentingan besar oleh beberapa oknum tertentu yang diharapkan dari penguasa.

Sederhananya, sebuah jual beli. Ada uang ada barang. Namun, tampaknya sang penguasa belum berfikir ke arah itu.

Sebagai masyarakat, mungkin semua sepakat tidak ada yang ingin menjerumuskan orang yang memimpin. Sepanjang kondusif dan semua sektor berjalan lancar, dukungan akan terus dilakukan.

Tetapi, ketika kesenjangan disemua sektor terus menumpuk dan carut marut mulai mengemuka, maka pilihannya mungkin tetap harus diperbaiki, walau berbentuk aksi.

Sayangnya, kritik berbentuk aksi yang ditunjukan oleh masyarakat seakan mendapat perlawanan dari oknum yang diindikasi menjalankan kepetingan besar itu tadi.

Jangan lupakan, siapa yang bisa menjamin kekekalan, ketika yang namanya kepentingan terabaikan, ketika harapan mulai menghilang dan ketika peluang yang diharapkan dari penguasa semakin mengecil, sejauh mana para penanding tetap bertahan?.

Mungkin, saat realisasi kepentingan masih memenuhi standar, dipastikan akan terus rapat dan merapat.

Namun, tatkala ladang mulai terbakar, plening lompat pagar bisa dipastikan jadi pilihan.

Ya, disitu barangkali penguasa akan mulai berfikir dan mungkin sedikit menyesali langkah yang ditempuh selama ini.

Ternyata, semua keliru dan hanya membesarkan kepentingan. Dan akhirnya, saat ambisi telah melebihi bakat, maka biasanya endingnya seringkali mengenyampingkan visi untuk masyarakat secara keseluruhan.

Maka, harapan masyarakat secara keseluruhan tetap ada, saatnya penguasa membangun Negeri dengan hati, bukan dengan sakit hati. Maaf, ini hanya bagian dari demokrasi.
BAGIKAN:

BACA JUGA

  • Menyerang Lebih Baik, Daripada Bertahan

    YA,... filosofi dalam dunia sepak bola agaknya patut dicontoh dalam menyatukan visi, misi dan kepentingan hajat orang banyak di Kabupaten Bengkalis.
     
  • KOMENTAR