• Home
  • Opini
  • Silayang Randah yang Terabaikan oleh Pemkab Agam

Silayang Randah yang Terabaikan oleh Pemkab Agam

Kamis, 16 Agustus 2018 12:13:00
BAGIKAN:
Beginilah kondisi infrastruktur jalan ke Silayang Randah, Jorong Siguhung, Nagari Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat
SILAYANG RANDAH. Sebuah Dusun kecil yang terletak di Jorong Siguhung, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam. Kenapa dibilang kecil, Dusun ini hanya memiliki lebih kurang 20 Kartu Keluarga (KK) dan luas wilayah juga terbilang sempit, karena hanya ada Rukun Tetangga (RT) sebagai perpanjangan tangan pemerintah. Sedangkan RW berada di Dusun Bulaan, Jorong Siguhung. Dan kehidupan masyarakat di Silayang Randah didominasi sektor pertanian.

Dari Ibu Kota Kabupaten Agam yang berada di Padang Baru, Jalan Sudirman Nomor 1 Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, jarak Silayang Randah hanya berkisar lebih kurang 10 Kilometer. Tidak jauh juga, tetapi sepertinya Pemerintah Kabupaten Agam seakan tidak melihat, ada dusun yang mereka abaikan. Bukan menuduh, tetapi kenyataan memang seperti itu. Barangkali tidak ada potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang bisa digali, sehingga "tak penting" juga diperhatikan.

Coba dilihat, dari dahulu hingga sekarang, Silayang Randah selalu tertinggal, terutama masalah infrastruktur yang dianggap paling mendasar. Memang, ada pembangunan (pengecoran) jalan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Agam di Silayang Randah, tetapi hanya 1 kali semenjak ada dan tidak ingat tahunnya, karena sudah begitu lama. Pantaskah?. Sangat tidak adil kiranya perlakuan itu, toh masyarakat juga menyumbang untuk daerah dari sektor pajak, kenapa harus dibedakan, atau memang para petinggi di Nagari Agam tidak ada yang peduli. Tetapi pada kenyataannya, itulah realitas yang penuh dengan ketidakpuasan.

Dari Dusun sebelumnya, Bulaan, Silayang Randah hanya perlu menempuh perjalanan lebih kurang 2 Kilometer. Tidak jauh. Kendati infrastruktur jalan tidak jauh, tetapi sangat berat perjuangan masyarakat untuk terus memperbaiki jalan yang telah dibangun sangat lama itu dengan bergontong-royong dan menggalang dana bagi masyarakat yang ada di "perantauan" untuk sekedar melakukan tambal sulam jalan. Karena, hanya itulah satu-satunya akses jalan bagi masyarakat Silayang Randah menuju ke pasar, generasi penerus menuntut ilmu dan lain sebagainya.

Hanya berbicara infrastruktur jalan. Bukan yang lain, karena tidak ada guna juga membicarakan program yang lainnya dari Pemerintah Kabupaten Agam, karena memang tidak mengalir ke Silayang Randah. Maka dari itu, akses satu-satunya bagi masyarakat Silayang Randah, kalau orang kota mengatakan jalan protokol, di Silayang Randah hanya ada satu jalan, tidak tau juga jalan apa namanya, karena memang tidak ada nama jalan sepertinya. Karena, mulai masuk Dusun Bulaan (Simpang SMP N 5 Lubuk Basung), namanya hanya Jalan Rasuna Said, sampai ke Silayang Randah, mungkin itu namanya.

Tapi ya sudahlah, apakah terlalu berat bagi pemerintah untuk membantu akses jalan masyarakat yang hanya berkisar 1,5 Kilometer itu?. Pertanyaan ini pasti ada jawabannya yaitu "kabar angin". Kabar angin memang selalu muncul, akan dibangunlah dan akan dihitamkanlah. Tetapi pada "endingya" tetap Pemberi Harapan Palsu (PHP) bahasa ngetrennya. Jangan ditanya kalau keterwakilan yang datang, yaitu beberapa orang Anggota DPRD Kabupaten Agam.

Tidak rahasia umum lagi, maaf mereka hanya datang saat ada kepentingan. Katakannlah saat-saat mendekati Pemilihan Legislatif (Pileg). Berbagai perlombaan dilakukan. Bukan perlombaan untuk masyarakat ya. Hanya sebatas perlombaan "mengukur" panjang dan lebar jalan. Mereka sambil membawa, apakah itu ajudan atau siapa yang mereka bawa, mungkin dari pemerintahan barangkali. Bentangkan "meter" dan diminta disaksikan masyarakat, agar masyarakat mengetahui saja, kalau mereka tengah mengukur jalan yang akan diperbaiki.

Kemudian, sepatah dua patah kata disampaikan, karena menganggap Daerah Pemilihan (Dapil) mereka, harus diamankan, maka mereka akan memperjuangkan dan akan memasukkan pada mata anggaran berjalan atau berikutnya. Ya, lagu lama. Bisa dipastikan itu hanya janji busuk untuk mendongkrak popularitas dan suara semata. Kalau di tagih, tidak ada guna juga, paling menyampaikan kata "sabar" sedang dalam proses. Toh pada kenyataannya hanya dianggap "tong kosong" saja.

Lebih parah lagi, dugaan praktik "nepotisme" dan mengamankan yang dekat, seperti "menggurita". Jangankan berbicara pada level atas, di level paling bawah sekalipun katakanlah jabatan oknum Kepala "Jorong", semakin memprihatinkan. Busuk memang, Jorong yang tepatnya perpanjangan tangan dari Wali Nagari untuk menyampaikan keluhan masyarakat, masalah masyarakat dan infrastruktur yang ada di Jorong yang dipimpinnya kepada Wali Nagari, juga dengan "kejam" mengabaikan tempat dan orang lain, selamatkan yang dekat dan tempat bermainnya sewaktu kecil. Sisanya baru dilempar ke yang lain. Normal memang, tetapi sungguh berlebihan, "penjilat" memang piawai dalam mengemas bahasa. Pendekatan terhadap petinggi dilakukan demi memuluskan ambisi. 

Tetapi, pada kesimpulannya, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka. Keinginan Masyarakat Dusun Silayang Randah untuk maju harus terus berjalan. Harapan dari pemangku kepentingan tetap ditunggu. Sebab, Silayang Randah pada dasarnya tetap harus diperhatikan Pemerintah Kabupaten Agam, terutama Nagari Lubuk Basung, karena itu kewajiban. Bukan hanya pada satu sektor, tetapi juga pada sektor lain. Cukup banyak generasi bangsa yang bertukus lumus dan berjuang menimpa ilmu di Dusun Silayang Randah dengan kondisi jalan dan perekonomian yang memprihatinkan, mengapa Pemerintah Kabupaten Agam membiarkan begitu saja. Bukankah Silayang Randah juga bagian dari Dusun kecil yang ada di Wilayah Pemerintahan Kabupaten Agam?. Kalau tidak, katakan, kalau iya, perhatikan.


Oleh: Defri Hidayat
(Pemuda Silayang Randah)
BAGIKAN:

BACA JUGA

KOMENTAR